Last Christmas


10375800_228354737374786_1237538618_n

******

Hyomin To Eunjung : “I love You More than anyone”
Eunjung To Hyomin: “This is a girl i treasure”

Demi Tuhan, Hyomin belum pernah merasakan sakit seperti ini. Bersender dibalik pintu kamarnya yang terkunci rapat, wanita berambut panjang itu seperti mematung, terdiam merasakan dadanya yang terus meradang. Apa ini? Perasaan macam apa ini? Pertanyaan yang sama terus menerus berputar dalam pikiran Hyomin, sementara otaknya sibuk mendeteksi emosi yang terasa asing baginya.

Sesuatu telah menjadi penyebab dari semua ini. Sesuatu yang menyesakkan dadanya, mengganjal saluran pernafasannya. Sepanjang perjalanan pulang setelah shownya bersama T-ara, Hyomin tidak mengeluarkan satu patah katapun, takut bendungan airmatanya tumpah jika ia berani bicara. Sebisa mungkin ia menahan emosinya, mencoba menyamarkan kegalauan hatinya dengan berpura-pura menikmati pemandangan malam kota seoul melalui kaca jendela mobil.

Oh, seandainya ada kata yang dapat menggambarkan perasaannya saat ini. Bahkan kata sedih saja tidak cukup untuk mendeskripsikannya. Yang ia tahu, perasaan itu terus menghimpit hatinya, terus mendorong jatuh air matanya. Hyomin merasa pertahannya akan runtuh hanya dengan hitungan detik. Maka dari itulah, ketika mobil yang membawa mereka pulang ke dorm berhenti, Hyomin tidak membuang-buang waktu lagi. Setengah berlari menuju kamarnya, ia menggumamkan kata lelah pada member lain sebagai tanda bahwa ia sedang tidak ingin diganggu, kemudian masuk dan mengunci pintu kamarnya.

Dan disinilah ia, masih menumpukan diri pada pintu mahogani kamarnya. Kepedihan terasa menjalar keseluruh raganya saat ini. Otot-ototnya terasa kaku. Untuk melangkahkan kakinya menuju tempat tidurpun ia tak sanggup.

Tanpa sadar, wanita itupun terisak. Tubuhnya bergetar seiring dengan kejatuhan air matanya. Sungguh Hyomin tak sanggup lagi menahan sedu sedannya. Ia sudah tidak peduli pada apapun lagi. Saat ini, ia hanya ingin mengeluarkan semua beban yang menghimpit dadanya. Semua tumpahan emosi ini membuat lututnya lemas, tidak kuat lagi menyanggah beban tubuhnya. Ia membenci hal yang telah membuatnya seperti ini, terduduk lemah dengan tangan merangkul kedua kaki, menangis terisak sampai sulit untuk bernafas. Mengabaikan puluhan ketukan di pintu kamarnya, itu.. suara sang maknae, Park Jiyeon roommate-nya.

Betapa Hyomin menyesali kerapuhan dirinya ini. Sesuatu telah membuatnya sedih sedemikian rupa. Sangat sedih sampai terasa sakit sekali.
————————————————————
LOKASI SHOOTING DRAMA QUEEN INSOO

“CUT! Bagus sekali Eunjung-ah!”
Eunjung tersenyum lega mendengarnya. Ia bersyukur tidak perlu mengulang-ulang adegan yang sama dalam cuaca sedingin ini.
“Ghamsahamnida….” Ujarnya sopan.
Sang sutradara menyambutnya dengan anggukan semangat. “Kau boleh istirahat sekarang…”
“Nde…”

Istirahat. Kata yang sudah ditunggu-tunggu oleh Ham Eunjung sejak tadi. Tanpa menghabiskan banyak waktu, wanita itu langsung menuju ke Van, lalu merebahkan diri di sofa empuk yang telah disediakan.

Dia sangat lelah. Akhir – akhir ini ia hampir tidak mempunyai waktu untuk beristirahat. Jadwal padat memang tidak pernah lepas darinya, namun kali ini daya tahannya seolah diuji. Coba kita rincikan. Ia masih terlibat shooting di dua televisi dan 2 show sekaligus, We Got Married bersama Lee Jangwoo dan Drama Queen Inso yang saat ini sedang dilakukannya. Lalu schedulenya bersama T-ara, mulai dari live show, promosi single di Jepang, sampai menjadi branch face untuk beberapa produk iklan. Lihat kan? tidak ada kata “tidur” tertera disana. Sama sekali tidak ada.

Bukan, bukan. Eunjung bukannya mengeluh. Wanita 23 tahun itu tahu resiko pekerjaan yang ia pilih, dan tidak pernah sedetikpun ia menyesalinya. Bagi Eunjung yang sekarang, materi bukan lagi sebuah prioritas. Ia telah mendapatkan sumber kebahagiaan baru dari hasil kerja kerasnya selama ini. Dan hal itulah yang menopang pertahanan tubuhnya. Hal tersebut selalu bisa membakar semangatnya, mendorong dirinya agar terus berkarya lebih baik lagi.

Hal tersebut adalah para penggemarnya. Dan Eunjung merasa sangat berhutang budi pada mereka.

Apa yang Eunjung sesali saat ini adalah, keterbatasan waktunya untuk berkumpul bersama teman-temannya. Bahkan bersama T-ara, girl group yang saat ini ia naungi, ia mulai merasakan jarak. Belakangan ini, ditengah kesibukan pribadinya shooting untuk dua acara sekaligus, Eunjung sering absen di tiap perform mereka. Ia benar-benar membenci waktu yang mencuri momen kebersamaan mereka.

Entahlah, melihat mereka terbiasa tampil tanpa dirinya, sedikit banyak membuat wanita hydrophobia ini merasa sakit hati. Setelah dua tahun bergabung dalam payung industry yang sama. Dua tahun berjuang bersama, berbagi tempat tinggal, berbagi kehidupan. Rasanya aneh terpisah dari mereka.

Sebenarnya, Eunjung merasakan ada hal lain yang mengganjal dihatinya. Seperti ada sesuatu yang perlahan menghilang dari kehidupannya, menciptakan ruangan hampa udara didadanya.

Menarik nafas dalam-dalam, Eunjung mencoba melepaskan kepenatan dirinya dengan satu helaan panjang. Sementara pikirannya sibuk mencari solusi untuk menghibur kesepiannya…

Aiigooo… padahal sebentar lagi natal, mengapa kau malah merasa tidak bersemangat seperti ini Ham Eunjung!!
Tiba-tiba saja sebuah ide muncul dikepalanya. Tanpa bisa mencegah dirinya sendiri, wanita berambut sebahu ini mengambil handphonenya, lalu menghubungi orang yang juga sangat ia rindukan.

Park Gyuri, sahabat masa kecilnya.

Eunjung ingin mengucapkan natal lebih awal pada sahabatnya ini, maka, alih-alih menghubunginya lewat telepon, ia lebih memilih menggunakan akun twitternya.

@taraeunjung1212 : @gyuri88 merry xmass
Tidak perlu menunggu lama, nada pemberitahuan balasan Gyuri sudah ia terima.
@gyuri88 : RT @taraeunjung1212 merry xmass to you too chagi. Apa kita bisa bertemu di Gayo daejun nanti?
Eunjung sempat tersenyum membaca kalimat awal sahabatnya itu, namun wajahnya kembali menekuk saat melihat kalimat selanjutnya. Sambil memasang muka cemberut, ia membalas…
@taraeunjung1212 : RT @gyuri88 aku tidak mau. Aku ingin kita bertemu ditempat lain hanya ada kita berdua.

Eunjung dan Gyuri sudah bersahabat sejak sama-sama menjadi artis cilik. Mereka sangat dekat, hampir tidak ada jarak. Seperti sepasang saudara kembar, yang memisahkan mereka hanyalah tidak adanya hubungan darah. Terkadang mereka dapat merasakan perasaan satu sama lain, seperti ada sesuatu yang menghubungkan mereka.

Seperti saat ini, Gyuri seolah tahu apa yang sedang dipikirkan Eunjung. Tidak begitu lama setelah tweet terakhir Eunjung, member girl group Kara itu menghubungi sahabatnya.

“Yoboseo?” Eunjung menjawab dengan nada girang. Benar-benar ia merindukan wanita ini.
“Yoboseo…” terdengar suara merdu dari seberang sana. “Chagiyaaa…. Bagaimana kabarmu?”
Eunjung menghela nafas panjang sebelum menjawab “Aku baik…”
“Baik? Kau tidak pandai berbohong!”
“Aku tahu…”
“Ada apa? Apa kau sedang ada masalah?”
Eunjung kembali menjawab dengan helaan nafas.
“Kau kenapa? Ceritakan padaku chagiya…”

“……….”

“Ya! Chagi… kau masih disana kan?”
“Gyuri-yah… apa kau pernah merindukan kehidupan normal? Maksudku, kehidupan dimana kau bebas berteman dengan siapapun, melakukan apapun semaumu, tanpa kekangan dari orang lain…”
“Hah? Apa maksudmu? Kenapa tiba-tiba berkata seperti itu?”
“Entahlah, saat ini aku merasa seperti boneka marionette, seolah ada tali tak terlihat yang mengendalikan semua gerak gerikku…., aku seperti bukan diriku!”
“Tunggu dulu… aku sama sekali tidak mengerti… Apa sebenarnya yang kau bicarakan?””
“Aku membicarakan tentang aturan managementku! Kau tahu maksudku kan?”
“Ya.. aku tahu, tapi… bukankah memang tugas seorang manager untuk mengatur jadwal artisnya?”

“Aku tidak keberatan jika mereka hanya mengatur schedule, tapi akhir-akhir ini… mereka sudah mulai mengatur kehidupan pribadiku… Kau harus begini, kau tidak boleh begitu…. Kurasa, mereka mulai lupa kalau aku juga manusia, mungkin selama ini, aku hanya dianggap sebagai mesin pencetak uang!” muka Eunjung berubah masam dan hatinya teras sakit ketika mengucapkan kalimat ini.

“Aku tahu perasaanmu, tapi… pikirkan positifnya… sekarang T-ara sudah mencapai popularitas… kalian sudah mulai mendunia…”
“Benar, dan aku benar-benar bersyukur kerja keras kami mulai menampakkan hasil. Tapi… T-ara adalah Girl Group! Kami adalah penyanyi… akan lebih membanggakan jika prestasi yang kami dapat karena kualitas karya-karya kami… bukan karena hal lain!”

Tak ada jawaban apapun dari Gyuri. Mungkin apa yang disampaikan Eunjung terlalu benar, sehingga ia tidak bisa mengucapkan kata bantahan.

“Aku lelah dengan segala strategi bodoh management ini, aku merindukan konsep T-ara yang dulu… aku merindukan T-ara sebagai penyanyi group, bukan sebagai penghias poster…” gadis berumur 23 tahun itu mulai terisak di ujung telepon. Merasakan sesuatu yang lama ia pendam seperti meluber keluar.

——————————
T-ARA DORM 02.15 KST

Hyomin merasa dirinya sudah mulai tidak normal. Tunggu, mungkin ia memang tidak begitu normal, tapi kali ini, ia merasa benar-benar gila!

Mantan Leader T-ara ini benar-benar merasa ada yang salah dengan dirinya. Lihat saja, sementara member lain mempergunakan waktu senggang ini untuk beristirahat, Hyomin malah sibuk mengasingkan diri dalam kamarnya, sibuk mencoba berbagai cara untuk membuat dirinya terlelap. Bahkan Jiyeon sang roommate tak di biarkannya masuk kamar sejak pulang tadi, ia mengunci kamar mereka rapat-rapat,mengacuhkan ketukan-ketukan sadis para sahabatnya yang cemas melihat kelakuan dirinya.

Suara ketukan itu baru mau berhenti ketika Hyomin berteriak lantang “Aku ingin sendiri malam ini, jebaal”

Saat ini, ia sedang sangat merindukan seseorang. Begitu rindunya, sampai setiap kali ia memejamkan mata, wajah orang tersebut muncul seketika. Normalkah ia?

Cuma beberapa hari, tapi terasa seperti sudah bertahun-tahun. Hyomin tidak bisa berhenti memikirkan Eunjung. Ia seperti kehilangan separuh bagian tubuhnya. Otaknya tidak henti-hentinya bertanya, Sedang apa ia? Apa menu makan siangnya? Apakah tidurnya cukup?

Ia benar-benar gila.

Merasa perlu melakukan tindakan untuk menghentikan keabnormalannya, Hyomin pun mengambil telepon genggamnya. Ia merasa otaknya benar-benar rusak jika tidak mendengar kabar Eunjung sekarang.
Tapi… apa yang harus ia katakan? Lagipula, saat ini, Eunjung sedang shooting untuk drama terbarunya, dan ia tidak enak hati untuk mengganggunya.

Kau bodoh Hyomin… Kau bisa berpura-pura mengucapkan natal padanya…

Benar! Dengan semangat ia mulai membuka akun twitternya, bersiap-siap menuliskan kata selamat untuk teman satu groupnya. Sebuah senyum tersungging dibibirnya.
Langkah yang salah. Karena apa yang ia temukan justru malah berbalik menghancurkan hatinya.
Eunjung, orang yang membuat otaknya bergerak tidak wajar seperti ini, dengan tanpa bersalah mengucapkan kata-kata mesra kepada orang lain. Kepada wanita lain.

DEG!!

Isi twitter Eunjung dan Gyuri meluluhlantahkan hatinya yang sedang rapuh….

Balasan Mention antara Eunjung dan Gyuri bagaikan tusukan belati yang bertubi-tubi dijantungnya. Hyomin sendiri tidak tahu mana yang lebih sakit. Mengetahui bahwa orang yang sangat ia rindukan lebih memilih berinteraksi dengan orang lain, atau saat menyadari perasaannya tidak mendapat timbal balik.

Kepala Hyomin tiba-tiba terasa pening. Ia benar-benar tidak menyangka, hal sekecil ini bisa membuat lubang yang sangat besar dihatinya. Layar handphonenya mulai terlihat kabur karena terhalang butiran air mata. Tangannya bergetar hebat.

Eunjung ah… apa kau tidak merasakan hal yang sama sepertiku? Apa kau juga tidak ingin mengucapkan selamat natal padaku? Apa kau telah melupakan janjimu?

Hyomin membenamkan wajahnya ke bantal lalu mulai terisak lagi..
Ia teringat memori setahun yang lalu, dimana ia merasakan Natal terindah dalam hidupnya.

FLASBACK
24 Desember 2010… Pukul 23.00…

Malam ini malam natal. Malam special bagi orang-orang yang merayakannya. Malam yang dipercayai sebagai malam keberkahan.

Bagi Hyomin, malam ini lebih dari sekedar special. Malam ini, ia merasakan dirinya penuh dengan kebahagiaan. Bagaimana tidak, saat ini, ia dan girl groupnya sudah mulai memetik hasil kerja keras mereka selama setahun lebih. T-ara mulai diperhitungkan, nama mereka mulai dielu-elukan. Antusiasme mulai terlihat disetiap perform mereka. Sungguh harga yang sangat mahal untuk membayar jerih payah mereka.

Ya.. ia sangat bahagia. Namun apa yang membuatnya tidak bisa berhenti tersenyum adalah sosok yang saat ini berada disampingnya. Wanita yang menggandeng tangannya, yang berjalan beriringan dengannya.
Ham Eunjung.

Setelah performed spektakuler mereka di MBC, wanita itu menarik Hyomin keluar dari rombongan. Mengucapkan kata bosan dan jalan-jalan, ia mengajak Hyomin menghilang dari yang lain. Menyeret tubuh rampingnya agar mau menemani keinginan childishnya.

Hyomin tidak keberatan. Menyesalpun tidak. Berjalan-jalan ditengah guyuran salju, menikmati indahnya malam natal di Kota Seoul. Hyomin merasakan kebahagiaan yang amat sangat.

Crashh!!

Gumpalan salju tepat mendarat diwajah mulus Hyomin. Membuat sipemilik kaget setengah mati.

Crasshh!!

Benda yang sama dilemparkan seseorang kearahnya, kali ini mengenai bahunya.

Setelah mengatasi kekagetannya, Hyomin melemparkan pandangan ke segala arah, mencari sumber dari serangan tak terduga itu.

Disana… beberapa meter didepannya, sang pelaku sedang tertawa terbahak-bahak. Suara tawanya memecahkan keheningan malam.

“kau harus lihat wajahmu Hyomin-ah… kau lucu sekali!” Eunjung berseru ditengah-tengah gelaknya. Perutnya terasa sakit karena tertawa.

Crashh!! PAAAK!!!

Kali ini butiran salju tepat mengenai pelipis Eunjung, hasil lemparan Hyomin. Keadaan berbalik sekarang.
“Tidak semudah itu Ham Eunjung!” sahut Hyomin sambil memeletkan lidahnya. Seringai menghiasi wajahnya.

“YA~!”
Eunjung protes!

Dan begitulah. Perang bola salju pun pecah diantara kedua wanita dewasa ini. Malam natal yang seharusnya hening dan suci, berubah menjadi hujanan amunisi peluru putih berbahan dasar es. Suara gelak tawa dari keduanya, membahana disepanjang taman, meramaikan malam kudus di Taman kota Seoul.

“Cukup Hyomin-ah… aku sudah kehabisan nafas!” Eunjung lah yang pertama kali mengibarkan bendera putih. Duduk dibangku taman, ia mencoba mengatur nafasnya yang terengah-engah.

“Itu karena kau terlalu banyak tertawa!” Ujar Hyomin, nafasnya masih tersengal. Ia duduk disamping Eunjung.
Duduk berdampingan dibangku taman, senyum tidak pernah terlepas dari bibir keduanya. Untuk sesaat, tidak ada satu patah katapun yang terucap. Keduanya sibuk meresapi rasa nyaman yang menjalar diseluruh tubuh mereka.

“Aku senang sekali…” Ucap Eunjung memecahkan keheningan. “Rasanya sudah lama kita tidak tertawa selepas ini…”
Hyomin tersenyum tanda setuju. Ia berharap malam ini tidak cepat berakhir.

Masih dengan senyumnya, Hyomin merasakan sepasang tangan menarik lengannya. Memaksa ia menghadapkan diri kearah pemilik tangan. Kini, ia dan Eunjung duduk berhadap-hadapan. Mata mereka bertemu, saling memberi kehangatan.

Eunjung mengangkat tangannya, meletakkannya dikedua sisi wajah Hyomin. Tanpa memutuskan pandangan, Eunjung berkata…

“Kau tahu, bahwa kau adalah orang yang spesial!” Eunjung menatap penuh sayang pada Hyomin. Gadis cantik itu terdiam “Lebih spesial dari member lain” kali ini senyum menghiasi wajah barbie Hyomin.

“Aku ingin natal ditahun depan kita juga berdua seperti ini, hanya kau dan aku. Janji??” kata Eunjung serius, menatap dengan jutaan kasih dan kelembutan. Menyodorkan jari kelingkingnya.

Aneh sekali. Ketika suhu mencapai angka minus 5 derajat, Hyomin malah merasa tubuhnya begitu hangat. Dengan senyum mengembang, Hyomin mengangguk.

“Janji…” dikaitkannya jari kelingkingnya pada kelingking Eunjung.
Tahun ini, Hyomin merasakan berkah natal yang luar biasa. Baginya, wanita yang saat ini sedang mendekap dirinya, adalah kado terindah yang pernah diberikan tuhan padanya.

FLASHBACK END

———————–

Core Content Media Building

Eunjung menguatkan dirinya dengan menarik nafas dalam-dalam. Ketika dirasa tekadnya sudah membulat, ia mengetuk pintu bertuliskan “CEO” didepannya.

TOK TOK TOK

“Masuk!”

Eunjung menarik nafasnya sekali lagi, sebelum membuka pintunya.

“Annyeong hasimnika…” sapanya sopan seraya membungkuk hormat.
“Eunjung-shi?” Seorang pria bertubuh gempal menyambutnya heran. “Bukankah kau sedang ada schedule?”
“Ehh.. shooting dimulai satu jam lagi, kupikir, aku masih punya waktu untuk bertemu sajangnim sebentar… ada sesuatu yang ingin aku bicarakan”

Kim Kwangsoo, Direktur Utama management artis dimana Eunjung dan T-ara bernaung, menaikkan alisnya.
“Begitukah? Kalau begitu masuk dan duduklah…”

Eunjung menurutinya. Ia pun duduk di sofa panjang yang ditunjuk oleh atasannya tadi. Sementara Mr. Kim sendiri menempatkan dirinya disofa yang lebih pendek, tepat didepan Eunjung.

“Ada apa?” Tanya pria berkulit putih tersebut.

“Aku… “ Eunjung berhenti sebentar. Otaknya sibuk memilah-milah kata yang akan diucapkan. “Aku… Aku merasa keberatan dengan setting couple yang kalian terapkan. Maksudku, aku tidak merasa nyaman dengan konsep yang memasangkan aku dengan Jiyeon, atau Hyomin dengan Hwayoung… Bagiku, ini terasa aneh…”

Diluar dugaan, Mr. Kim malah tertawa mendengarnya. Eunjung sedikit kesal melihat reaksi sajangnimnya ini. Tidak bisakah ia melihat keseriusan Eunjung dalam hal ini? Ini menyangkut kehidupannya! Bagi Eunjung, suara tertawa Mr. Kim terdengar seperti kekeh meremehkan ditelinganya.

“Aku serius dengan ucapanku, Sajangnim… aku merasa konsep kali ini sangat bodoh… ini… seperti pembohongan publik, aku dan Jiyeon….”

Tawa pria itu terhenti seketika. Raut wajahnya tiba-tiba saja berubah. Matanya berkilat tajam, sedikit menggoyahkan pertahanan Eunjung. Saat bicara, ia mengeluarkan nada otoriternya yang terkenal.

“Kau tidak mengerti Eunjung-shii… ini bukan sekedar berpasang-pasangan. Kau tidak akan paham strategi bisnis seperti ini. Saat ini, T-ara sudah mulai menaiki tangga teratas popularitas. Apa yang harus dilakukan adalah, mendorong kalian agar bisa mencapai puncak. Kau tahu, resiko sebuah group ialah, tidak semua member mendapat antusiasme yang sama. Hal yang tidak akan bisa dihindari. Dan saat ini, yang paling menjadi sorotan adalah kau dan Jiyeon. Banyak yang menyukai kedekatan kalian, bahkan, sebagian dari penggemar T-ara adalah penggemar kalian berdua!”

“Sajangnim tapi… “

“Aku belum selesai Eunjung-shi… Apa kau tidak bisa menangkap peluang disini? Dengan mensetting kalian berdua sebagai pasangan, penggemar T-ara akan bertambah! Popularitas kalian akan naik! Netizen diluar sana akan berfikir ada sesuatu diantara kalian, dan issu itu akan mendongkrak nama kalian! Tidakkah kau menginginkan semua itu?”

“Aku…”

“Hal yang sama aku terapkan pada Hyomin dan Hwayoung… Sepasang Unnie dan dongsaengnya… Mantan Leader dan Maknae… Masyarakat akan dibuat penasaran dengan pasangan ini, dan ini artinya, T-ara akan lebih menarik perhatian lagi!”

Eunjung terkejut, dia tersenyum sinis tapi terasa begitu sakit…

“Ini konyol, kau menjual bakat kami kan bukan kehidupan kami dan membohongi publik! Hubunganku dan Jiyeon tidak seperti yang fans kira, begitu juga hubungan Hyomin dan Hwayoung. Kalian seolah menjual kami dengan cerita seperti drama di Tv, kami tidak seperti itu… ini pembohongan publik!” Eunjung protes, tangannya mulai gemetar. Ia tidak terima jika hati nuraninya harus dibohongi hal-hal bisnis macam ini.

“Aku mengerti ini sulit bagi kau dan Hyomin, aku tahu kedekatan kalian sejak awal kalian masuk ke agency kami, aku juga tahu kalian sangat dekat, aku tahu Hyomin bergantung padamu dan mungkin dulu salahku ketika awal T-ara debut, kedekatan kalian sedikit kumanfaatkan.” Jujur Mr Kim

“kedekatanku dan Hyomin bukan settingan management, sajangnim…” bantah Eunjung.
“Aku tahu bahkan sangat tahu,kalian lebih dulu bergabung sebelum nama T-ara kubentuk. Tapi… ayolah.. ini semua demi nama kalian demi popularitas T-ara, terutama demi menaikan nama hwayoung!”
“Kalian mengorbankan aku dan Hyomin… dan kau berusaha membentuk Hwayoung sama sepertiku…”
“Ku mohon Eunjung-sshi, turuti saja aturan kami, nanti juga kalian akan terbiasa. Kalian akan terbiasa jauh..”

Ucapan Sajangnim benar-benar menusuk ulu hatinya, terbiasa jauh????? Bagaimana mungkin bisa??? Bagaimana mungkin ia terbiasa jauh dari karibnya sejak bertahun-tahun lalu itu??

Eunjung benar-benar tidak bisa berkata apa-apa lagi. Dalam hatinya, ia tidak menerima strategi marketing seperti ini. Ia merasa telah membohongi penggemarnya, dan Eunjung sangat membenci keadaan seperti ini.

“Ini semua demi kesuksesan kita bersama… Kau masih ingat apa yang kukatakan pada kalian sebelum debut kan? Aku akan menjadikan kalian the queens of Kpop… dan yang harus kalian lakukan hanyalah mengikuti keputusan yang kubuat! Tidak usah memikirkan strategi apa yang kugunakan, karena kau tidak akan mengerti!”

Eunjung bangkit dari sofa,menatap wajah Direktur CCM itu dengan kecewa.

“T-ara akan berada dipuncak karena Bakat dan karya kami, bukan karena strategi bodoh macam ini, aku pamit sajangnim..” dia membungkuk sedikit lalu keluar dari kantor sang direktur dengan hati galau luar biasa.

Kau tidak mengerti Sajang-nim.. Karena dengan konsepmu ini, ada banyak orang yang kau bodohi…. Batin Eunjung seraya berjalan meninggalkan kantor CCM.

———————————
DORM T-ARA

“Eunjung unnie!!”
Suara manja dari member termuda T-ara menyambut kepulangan Eunjung. Detik berikutnya, sipemilik suara sudah bergelantungan di bahunya, bergelayut mesra seperti seorang anak yang sedang membujuk ibunya untuk dibelikan permen.

Uuugghhh… Eunjung menggerutu dalam hati.

Entah mengapa ia merasa risih dengan sikap dongsaengnya itu. Mungkin karena ia lelah? Ya.. mungkin… tubuhnya sudah pegal-pegal tanpa harus ditambah beban baru, tubuh bongsor Jiyeon misalnya.

“Jiyeon-ah… aku lelah…” Jawab Eunjung lemah. Berusaha melepaskan diri dari simpul tangan Jiyeon ditubuhnya.
“Eunjung – unnie!” rajuk Jiyeon. Ia membebaskan tubuh Eunjung, menghentakkan kakinya sekali, kemudian memasang wajah cemberut.

Oh.. tidak! Aku terlalu capek untuk meladeni sifat kekanakanmu!

Mengacuhkan wanita yang lebih muda itu, Eunjung menyapukan pandangan ke seluruh ruangan. Semua member tampak sedang asik menonton tv. Soyeon unni dan Ramboo unnie duduk berdua di sofa, sepertinya asik menikmati tayangan yang terpampang dilayar kaca, sambil sesekali berbisik-bisik dan tertawa kecil. Duduk manis dilantai bawahnya, tampak Hwayoung dan Qri Unni dengan mata terpaku pada layar yang sama. Terlihat beberapa bekas bungkus snack bertebaran disamping mereka, membuat Eunjung memutar matanya.

Mereka ngemil lagi… Tunggu sampai kuberitahu manajer…

Tunggu dulu. Pemandangan ini terlihat aneh. Ada detail yang kurang, sesuatu yang sangat penting telah menghilang!
“Mana Hyomin?” Tanya Eunjung kepada wanita yang berdiri paling dekat dengannya.
“Tidak tahu…” Jawab Jiyeon, tangannya sudah kembali mengikat tubuh Eunjung. “Eunjung –unnie… ayo temani aku nonton tv…”

Eunjung sama sekali tidak menghiraukan Jiyeon. Pikirannya sedang disibukkan oleh hal lain. Tidak tahu mengapa, tiba-tiba saja wanita ini merasa kecewa. Lelah tubuhnya seakan bertambah. Entahlah, sepertinya semua energy yang tersisa ditubuhnya, lenyap bersama dengan ketiadaan Hyomin.

“Aku tidak bisa Jiyeon-ah… aku capek sekali… aku mau tidur…”

Sekali lagi Eunjung membebaskan diri dari pagutan tangan sang maknae. Tidak mengindahkan aksi merajuk Jiyeon dan tatapan tanya member lain, Eunjung bergegas kekamarnya. Ia memastikan pintunya sudah terkunci, sebelum membanting diri ke kasur empuknya.

Eunjung merasakan matanya begitu berat, namun susah untuk terpejam. Sambil menunggu lelap, Ia memandang sekeliling kamarnya. Tidak ada yang luar biasa sebenarnya, hanya saja, matanya tertarik pada satu frame yang teronggok diatas meja rias disamping tempat tidurnya.

Tangannya tergerak untuk mengambilnya. Masih dengan posisi terlentang, Eunjung menatap benda itu lekat-lekat. Dalam pigura plastic berwarna pink itu, terpampang foto dirinya bersama Hyomin . Foto itu Diambil disela-sela latihan mereka beberapa tahun lalu. Mereka tampak begitu bahagia, saling tertawa bermain dengan kamera, tersenyum gembira. Ia merindukan saat-saat seperti ini.

ia merindukan Hyomin. Eunjung menyayangi semua member, tapi… tidak seperti ia menyayangi Hyomin. Wanita itu berbeda. Eunjung tidak tahu perasaan apa ini, tapi yang jelas… ia merasakan sesuatu yang asing. Sensasi berbeda yang hanya ia rasakan saat bersama Hyomin.

Pernakah kau merasakan hal seperti ini pada seseorang? Misalnya, ketika kau bangun, maka orang itulah yang pertama kali muncul dalam pikiranmu. Ketika kau merasa sangat gembira atau merasakan hal yang begitu menyedihkan, orang itulah yang pertama kali ingin kau beritahu. Atau saat kau ingin melakukan sesuatu, orang itulah yang kau harapkan untuk menemanimu.

Aneh bukan? Seperti itulah yang Eunjung rasakan terhadap Hyomin. Hidupnya terasa hambar tanpa wanita itu. Betapa Eunjung ingin melakukan semua hal bersama Hyomin. Ia ingin berbagi makan siang dengannya. Ia ingin berlibur berdua saja dengannya. Ia ingin berbagi rahasia dengannya. Ya Tuhan… bahkan ketika jauh, ia hanya ingin mendengar suara Hyomin di teleponnya! Sangat terhibur dengan hanya mendengar suara batuknya…

Eunjung benar-benar sangat merindukan Hyomin.

“… Konsep apa maksudmu?”

Seolah pikirannya menembus keluar ruangan, tiba-tiba saja Eunjung mendengar Park Soyeon, Main Vocal dan Leader baru T-ara berbicara dari ruang tengah dorm mereka.

“Aku diberitahu sajangnim kalau aku dan Hyomin Unnie akan dijadikan couple” Eunjung mendengar Hwayoung menjawab. “Kami akan seperti husband and wife seperti Eunjung Unni dan Hyomin Unni dulu… Sajangnim bilang konsep ini akan membantuku supaya lebih dikenal sebagai member baru… Jadi untuk selanjutnya, kami berdua harus tampil mesra didepan kamera…”

Hati Eunjung mencelos. Info ini bagaikan sambaran petir baginya.
Malang bagi wanita itu, petir kedua datang berkedok suara tawa Jiyeon.
“Bagus sekali kalau begitu… jadi mulai sekarang, aku dan Eunjung unni akan bebas! Tidak ada lagi EunMinJi yang ada hanya EunJi!!!”

Eunjung benar-benar kehilangan mobilitasnya. Seperti ada seseorang yang mencabut baterai dikepalanya, menghentikan pergerakan roda-roda penggerak tubuhnya. Pikirannya kosong.

Terdengar suara dengusan dari seberang. Kemudian terdengar suara Qri berbicara dengan nada tinggi.

“Aku tidak tahu apa yang kalian pikirkan… yang jelas aku tidak menyukainya! Bukankah T-Ara akan lebih bagus dikenal karena karyanya, bukan hal-hal tidak penting macam ini??? Bagaimana bisa kalian tertawa dengan konsep bodoh seperti itu? Kalian merasa beruntung, lalu bagaimana dengan Eunjung dan Hyomin? Pernahkah kalian menanyakan perasaan mereka tentang ini? Kurasa tidak, karena kalian tidak mengerti!”

Suara langkah berat terdengar setelah pidato panjang Qri, diikuti oleh suara debam pintu yang dibanting, mengumumkan sang pemilik kaki telah menarik diri kekamarnya.

Eunjung begitu tersentak. Kata-kata Qri sangat mewakili apa yang ada dibenaknya. Sudah tidak mau peduli lagi, Eunjung menarik bantalnya, lalu membenamkan diri dibawahnya. Berusaha menutup telinganya sekuat mungkin. Ia tidak mau mendengar apapun lagi. Ia tidak mau peduli apapun lagi. Bahkan ia mengacuhkan bantal dan kasurnya yang basah karena rintikan air mata.

—————————————–
KBS TV – MUSIC BANK SPESIAL XMASS 2011

Eunjung tersenyum gembira. Rasanya sudah sangat lama ia tidak tampil bersama T-ara dalam satu panggung. Wanita itu bersyukur, ketika jadwal T-ara untuk mengisi acara di Mubank Special Christmast, ia tidak punya schedule lain.
Sukses membawakan dua lagu, semua member kecuali Jiyeon yang masih harus melakukan special stage, kembali ke backstage dengan wajah sumringah. Tidak ada kebahagiaan lain bagi mereka selain melihat antusias para penggemar. Semua kecuali…

Ya ampun lagi-lagi…

Eunjung melihat sekelilingnya. Hyomin tidak ada bersama mereka. Memisahkan diri dari rombongan, Eunjung menjelajahi setiap sudut backstage, sambil mengutuk kemampuan menghilang Hyomin yang begitu cepat.

Itu dia…

Eunjung menghela nafas lega. Didepan pintu ruang ganti, Hyomin terlihat sibuk bicara dengan Sunny, salah satu member dari girl group SNSD yang sempat dikabarkan dekat dengannya.

“Hyomin-ah!” panggil Eunjung, mendekati sipemilik nama sambil berlari kecil.
Hyomin menoleh, raut mukanya menggambarkan kebingungan. Belum sempat ia menyuarakan sesuatu, Eunjung sudah berada disampingnya, mengucapkan salam singkat kepada Sunny, kemudian menarik wanita langsing itu ke sudut ruangan. Dimana tidak ada satupun mahluk hidup lain berada.

“Hyomin-ah…” Sengal Eunjung. Nafasnya tidak teratur karena terengah-engah. “Malam ini, datanglah ke taman kota! Aku akan menunggumu ditempat yang sama seperti dulu!”

“Eh…?”

Hyomin kaget mendengarnya. Ada apa dengan wanita ini… kenapa tiba-tiba… Ia ingin mengucapkan kata tanya, namun lagi-lagi wanita berambut hitam pendek didepannya ini menyela.

“Ini!” kata Eunjung. Tangan kirinya membuka telapak kiri Hyomin, sementara tangan kanannya meletakkan sesuatu berwarna biru kecil diatasnya.

Sebuah permen mint kesukaan Hyomin tampak setelah Eunjung menyingkirkan tangannya. Sementara sipemberi permen langsung pergi menghilang, Hyomin memandang gula-gula pedas itu dengan senyum mengembang. Mukanya memerah.

Disana, disalah satu sisi plastic yang membungkus makanan itu, tertulis sebuah kalimat yang mampu membuat tubuh Hyomin terasa sangat ringan. Seolah semua beban tubuh dan beban dihatinya menghilang begitu saja. Hanya tiga buah kata, namun mampu menghantarkan Hyomin menuju awang-awang.

Berwarna merah terang, kumpulan huruf itu terlihat begitu indah ketika merangkai kata…

I MISS YOU…..
——————————————————————-
“Roly poly… roly roly poly…”

Bernyanyi membuat Eunjung sedikit hangat. Meskipun sudah memakai jaket super tebal dan syal yang lebar, dingin tetap saja terasa menusuk kulitnya.

Saat itu hampir tengah malam, hanya beberapa jam lagi sebelum natal tiba. Ketika semua orang lebih memilih berkumpul bersama merayakan hari besar ini, Wanita itu malah duduk sendiri disebuah bangku taman yang jauh dari kata ramai.

Dengan cuaca sedingin ini, tidak banyak orang yang mau menghabiskan waktu ditempat yang hampir tertutup oleh salju.
Begitu hening disana, Eunjung hampir saja bisa mendengar bunyi butiran salju yang jatuh. Hanya orang dengan tingkat kenormalan dibawah rata-rata yang mampu bertahan ditempat seperti itu. Tapi, kata normal sudah lama pergi menjauh dari seorang Ham Eunjung. Risiko pekerjaan membuat kata itu tidak betah berlama-lama dalam kehidupannya.

Eunjung menatap langit malam yang kelam tanpa bulan dan bintang. Mungkin awan gelap pembawa butiran putih telah menutupi fenomena alam itu. Namun Eunjung tidak punya pilihan, hanya langit yang memberikan warna selain putih. Eunjung tidak begitu menyukai putih, warna itu melambangkan ketiadaan baginya, menggambarkan kekosongan dan kesendirian.

Sesuatu tiba-tiba saja memblokir pandangannya. Sesosok tubuh tinggi dan ramping berdiri didepan wajahnya, menutupi sinar lampu yang menerangi penglihatannya, menghasilkan sebuah siluet yang luar biasa indah.
Sosok itulah yang membuatnya bertahan ditaman tanpa penghuni ini. Sosok itulah yang membuatnya menyendiri dimalam sedingin ini. Sosok itulah, satu-satunya alasan Eunjung menghabiskan malam natal ditempat penuh memori ini.

Sosok itu adalah Park Hyomin.

“Noe… (kau) ” Sapa Eunjung. Seuntai Senyum tergaris dibibirnya. Hal serupa juga terlukis diwajah Hyomin. “Bagaimana kau bisa sampai disini? Apa yang kau katakan pada yang lain?”
“Aku bilang aku ingin membeli sesuatu di supermarket… kau sendiri? alasan apa yang kau buat?”
“Aku bilang aku ada jadwal shooting… jadi aku bebas pergi kesini…”
Hyomin terkekeh mendengarnya. “Dari dulu kau memang paling pandai berbohong!”
“Ya! Aku tidak sehebat kau!” bantah Eunjung. Ia menggeser tubuhnya, mengisyaratkan Hyomin untuk duduk disampingnya.

Mengerti yang dimaksudkan Eunjung, Hyomin pun menempatkan dirinya disebelah wanita bersuara tinggi itu.
Sejenak mereka duduk dalam diam. Tidak ada yang bisa bicara saat otak tengah sibuk merekam momen langka seperti ini. Setidaknya sejak konsep bodoh itu membuat jarak pada hubungan mereka, malam ini terasa sangat berharga. Tidak ada yang ingin bergerak ketika hati sedang asik meresapi kebersamaan seperti ini. Demi pencipta alam, bahkan sepi terasa begitu nyaman jika kau melakukannya dengan seseorang yang special.

Aneh…

Mereka merasa seperti sosok asing, rasanya ada sesuatu yang membuat keduanya begitu pasif.

“Kau.… “ Ucap Hyomin pelan, berusaha memecahkan keheningan. “Bagaimana kabarmu? Kau benar-benar sibuk belakangan ini…”
“Aku baik…” Jawab Eunjung. “Kau sendiri bagaimana?”
“Aku juga baik…” balas Hyomin. Ada jeda beberapa menit sebelum ia kembali berkata “Semenjak kau syuting drama, aku merasa kau sibuk sekali sampai kita jarang bertemu. Bahkan kalau bertemupun, kau selalu bersama orang lain! Aku merasa kita semakin jarang berkomunikasi!”

Refleks, Eunjung langsung menghadapkan diri pada wanita disebelahnya. Pernyataan tidak terduga keluar dari mulut Hyomin. Eunjung membuka bibirnya untuk membalas, namun otaknya tidak sejalan. Ia tidak dapat berkata apa-apa.

“Aku rindu masa-masa dahulu…” ucap Hyomin lemah, nyaris berbisik. “Aku merindukan kita yang dulu… Entahlah.. saat ini aku merasa kita begitu jauh… ”

Mata indah Eunjung mengamati ekspresi Hyomin yang sendu. Sorot matanya seakan berkata bahwa ia merasakan hal yang sama.

Aku juga merindukan saat-saat seperti itu Hyomin-ah… Batin Eunjung.

Seakan dikendalikan oleh remote control tak terlihat, otaknya mulai memutar kembali memori lama yang berlabel kebahagiaan. Cuplikan-cuplikan momen kebersamaan mereka berdua tergambar jelas dalam pikirannya.

“Apa kau ingat?” ujar Eunjung perlahan. “Saat Invisible Youth… waktu itu kau diminta untuk memilih aku atau Sunny… tapi kau tidak menjawab! Kau bahkan tidak mau melepaskan pegangan tangan Sunny!”

Hyomin tersenyum melihat Eunjung yang setengah kesal.

“Aku memilihmu… “ Ujarnya membela diri. “Aku menggandeng tanganmu!”
“Tapi kau tidak melepas Sunny…” timpal Eunjung sambil cemberut. “Padahal aku datang hanya untuk menemanimu… Aku ingin kita berdua saja, melakukan hal-hal gila seperti dibeberapa variety show yang pernah kita datangi!”
“Hal gila seperti saat dance battle? Saat kau memaksakan diri mengimitasi TOP oppa?”
“Hey! Setidaknya aku terlihat keren! Aku tidak sepertimu yang terlihat konyol dengan tarianmu di star bell golden!”
“Aku konyol? Hei… aku tidak pernah terjatuh saat pamer taekwondo di thailand …”
“Hyomin-ah!! Kenapa kau mengingatkan kejadian memalukan itu lagi?”

Hyomin sempat tertawa melihat Eunjung yang berpura-pura kesal, sebelum gelaknya terhenti saat merasakan kegetiran dalam tawanya tersebut.

Sambil tersenyum lemah, Hyomin menyuarakan apa yang sedang dalam pikirannya saat ini.

“Eunjung-ah…. Apa kau tahu apa yang paling kuingat saat kita menjadi juri Global Super Idol di Thailand?”
“Apa?” Jawab Eunjung tersekat. Ia bisa merasakan pancaran kesedihan dari Hyomin, dan ini membuatnya tidak nyaman.
“Di Bandara… saat kita akan kembali ke Seoul… saat itu hanya tinggal kau dan aku yang menyapa para penggemar… aku ingat saat mereka memanggil-manggil nama kita berdua, kita balik melambaikan tangan pada mereka… lalu… tanpa aba-aba, kau menarik tanganku dan merangkul pundakku, membawaku pergi dari sana… saat itu, aku merasa kau melindungiku.. membuatku sangat merasa aman…”

“Tentu saja aku melakukan itu,lalu apanya yang aneh?? Bukankah aku suamimu? Itu yang kau tulis saat mempublish foto-foto kita berdua kan??”
Hyomin terbahak mendengar ini. Sama sekali tidak menyangka Eunjung masih mengingatnya.
“Kau masih ingat kapan foto itu diambil?” tanya Eunjung.
“Tentu saja!” sahut Hyomin, memori pada masa itu membuatnya tertawa. “24 April 2011. Bahkan aku tak akan pernah lupa tanggalnya…, ”

Eunjung terdiam beberapa detik, mendengarkan Hyomin mulai berceloteh tentang kenangan mereka.

“Saat itu kau juga sibuk syuting ini itu, hingga kita jarang sekali bertemu. Kau kan yang mengajakku untuk makan berdua diluar..” jelas Hyomin tersenyum.
“kau tahu apa yang kuingat saat itu?” tanya Eunjung.
Hyomin menggeleng pelan. “botol di bibirmu itu… hahaha….” ledek gadis bertubuh jangkung itu terbahak untuk kesekian kalinya.
“YAH!! Kenapa yang kau bahas hanya kejelekanku saja..” Hyomin cemberut, bibir tipisnya mengerucut lucu, ciri khasnya jika sedang kesal. Eunjung terkekeh kegirangan melihat ekspresi Hyomin.

ahhh Park sunyoung… sungguh… wajahmu.. itu… membuatku merasa sedang berada disurga… kau.. cantik… batin Eunjung menatap wajah tirus sang sahabat.

“Tapi apa kau tahu apa yang paling aku kenang saat itu?” ucapan Hyomin membuyarkan renungan Eunjung akan surga dan bidadari , Eunjung memusatkan perhatiannya pada sang sahabat spesialnya itu lalu menggeleng..
“Bisa pergi kencan denganmu, hanya berdua denganmu.. walaupun dengan dandanan seadanya dan waktu yang mepet, tapi itu sudah cukup…”

Senyum mengembang terpancar begitu indah dari mata dan bibir Hyomin, Eunjung membalasnya dengan tatapan kasih dan jutaan rasa haru karena wanita di sampingnya itu masih begitu jelas mengingat kenangan-kenangan mereka dulu.
Kenangan yang menyenangkan, sungguh. Dalam kondisi normal, kedua rapper T-ara ini tidak akan segan-segan mentertawakan kebodohan mereka. Namun saat ini, malam ini, semua terasa kaku. Entah mengapa suasana canggung tidak mau pergi juga dari mereka. Seolah ada mahluk tidak terlihat yang menghisap kebahagiaan mereka, memaksa mereka untuk melampirkan kegetiran disetiap tawa yang keluar.

“Aku kira kau sudah lupa…” Hyomin tertunduk, jangan menangis Hyomin.. tolong jangan….
“Apa?”
“Aku kira kau sudah lupa padaku pada janjimu setahun lalu, aku kira kau benar-benar sudah nyaman dengan keadaanmu saat ini bersama… Jiyeon..”

DEG!

Jantung Eunjung mendadak sakit, sakit seperti tertusuk jutaan duri..

“Aku tidak akan lupa Hyomin-ah,,, hari dimana aku lupa tentang kita, hari itu juga kau boleh membunuhku….!” ujar Eunjung serius. Mendengar kata-kata Eunjung, Hyomin menoleh kearah sahabat wanitanya itu dengan mata sedikit membelalak kaget.

“……..” sunyi setelah itu…

Angin berhembus membuat gemerisik dedaunan. Hawa dingin terasa begitu menusuk tulang. Terlebih lagi, saat itu Hyomin lupa memakai syal, Buah dari ketergesaannya.

Melihat Hyomin yang menggigil kedinginan, Eunjung melepas syal miliknya. Kemudian dengan lembut melilitkan sandang rajutan itu dileher Hyomin.

“Kenapa kau tidak memakai Syal, cuaca malam ini sangat dingin, kau bisa sakit Pabo!” Ujar Eunjung sambil melilitkan Syal miliknya ke leher Hyomin, gadis ramping itu hanya diam, merasakan tangan hangat Eunjung berada mengelilingi tubuhnya.

”Eunjung-ah…” bisik Hyomin ketika Eunjung sedang sibuk membentuk simpul syal tersebut. ”Kenapa kau tidak mengucapkan natal padaku? Kau mengucapkannya lebih awal pada Gyuri, aku lihat balasan mention kalian!”
Eunjung menghela nafas panjang. Ia memastikan syal tersebut sudah terpasang dengan benar, lalu kemudian menatap mata coklat wanita dihadapannya. Kesalahpahaman ini harus segera diluruskan.

”Hyomin-ah… ” ia berkata lembut. Hatinya terasa meleleh melihat wajah sayu Hyomin. ”Aku dan Gyul adalah saudara… Aku mencintai dia sebagai seorang kakak… Aku ingin bertemu Gyul karna aku ingin bercerita tentang perasaanku padanya… tentang kegelisahanku mengenai aturan management kita!”

Mata Hyomin melebar. Entah karena keterkejutan, atau ketidak mengertian.

“Kau tahu apa yang Kim Sajangnim inginkan, bukan? Tentang konsep couple antara aku dan Jiyoen, kau dan Hwayoung…” Eunjung bicara sepelan mungkin. Mencoba memilah dan memilih kata yang tepat untuk menjelaskan keadaan yang sebenarnya pada Hyomin.

“Kau harus tahu Hyomin-ah… kalau aku tidak menyukai konsep ini.. sangat tidak menyukainya. Aku sedih… aku marah… tapi aku tidak bisa berbuat apa-apa! Mereka memintaku untuk terlihat bahagia dan mesra bersama Jiyeon didepan kamera, dan kalau kau mau tahu Hyomin-ah, itu adalah acting tersulit dalam hidupku!!”

Ini dia. Apa yang selama ini menjadi ganjalan berat dihati Eunjung, akhirnya keluar.

“Kau tahu kan aku dan member lain adalah Saudara… bukan.. seperti yang fans kira!” katanya lagi “tiap kali membuka internet dan melihat komentar dan pemikiran mereka, aku merasa sangat konyol dan merasa begitu bersalah. Aku sudah membohongi mereka semua…”

Ia letih membendung semua ini. Kesedihan, Kepenatan, Kesepian, Kerinduan.. bahkan Gundah dan Amarah… Semua ia lepaskan sekaligus. Hyomin harus tahu kepedihannya. Hyomin harus mengerti bahwa konsep tersebut juga mengacaukan dirinya.

Beberapa bulir air mata mengalir di pipi mulus Eunjung saat ia mulai berbicara kembali. Suaranya goyah, tubuhnya sedikit bergetar.

“Kau tahu kenapa? Karena aku tidak bahagia Hyomin-ah! Aku tidak bisa membohongi perasaanku sendiri! Aku sama sekali tidak BAHAGIA!! Karena itulah aku memanggilmu kesini, aku ingin kau tahu bagaimana perasaanku tentang ini! Aku merindukan kita yang dulu… aku merindukanmu… sungguh merindukanmu Hyomin-ah…”

“Aku…”

“Perasaan yang kurasakan padamu jauh berbeda dengan apa yang kurasakan pada Jiyeon atau Gyuri atau Suzy atau wanita manapun… “ tembak Eunjung, matanya tak lepas memburu mata Hyomin yang mulai berkaca-kaca “Kau… masih kekasihku… Hyomin-ah… satu-satunya… hanya kau… bukan orang lain…” sambung Eunjung dengan suara parau “Tak perduli apa yang management terapkan, hubungan dan perasaan ini tidak akan berubah!”

Sementara Eunjung mati-matian menahan tangisnya, Hyomin justru sudah dibanjiri air mata. Kata-kata Eunjung barusan terasa begitu hangat, namun juga menyakitkan.

”Apa ini natal terakhir kita berdua Jungie-ah? Apa selamanya kita akan dipisah oleh aturan management? Apa kita tidak bisa bebas seperti dulu? Jujur aku lelah memanggilmu dengan sebutan kamuflase itu ‘Unnie’….”

Y, Unnie… satu kata kamuflase yang Hyomin gunakan di depan publik….

Eunjung sudah tidak bisa menahan dirinya lagi. Dengan cepat ia memeluk tubuh ringkih Hyomin. Merangkulnya erat, mencoba menahan getaran yang timbul karena tangis tersedunya.

”Hyomin-ah… ” Eunjung mengeluarkan suara bisik tertahan. Ia merasakan kepedihan tengah mengganjal tenggorokannya. ”Berjanjilah padaku kau akan tetap seperti dulu. Walau kita sulit untuk mendekat, tapi tiap kali ada kesempatan itu, maka mendekatlah padaku seperti dulu! Berikan aku perhatian-perhatian kecilmu seperti dulu dan ingatkan aku! Berjanjilah diluar ini semua kau akan tetap disisiku! Menulis pesan untukku! Menanyakan kabarku, dan tetap menjadi angelku yang cantik dan perhatian! Berjanjilah kau akan selalu ada disisiku Hyomin-ah!”

Eunjung yang mengharapkan ucapannya dapat menenangkan Hyomin, malah dikejutkan dengan kenyataan lain. Hyomin yang sedari tadi sudah terisak dipelukannya, sekarang malah merintih sesenggukan. Tubuhnya makin bergetar tak terkendali.

Hyomin mengangguk sambil terisak kuat…

Ya Tuhan sungguh aku merindukan wanita ini…. Eunjung makin mengeratkan rangkulannya.

Hyomin sendiri sudah tidak bisa mengendalikan dirinya. Eunjung yang seperti inilah yang ia rindukan. Mendengar kata-kata mesranya… merasakan hangat peluknya… hal yang sudah lama menghilang dari beberapa bulan belakangan, kini dapat ia rasakan kembali. Dan kali ini, Hyomin bersumpah tidak akan membiarkannya pergi lagi.

”Saranghae Eunjung-ah… Jeongmal saranghaeyo…”

Pelan. Hampir tidak terdengar ditengah suara sedu sedannya. Tapi sanggup membuyarkan pertahanan Eunjung yang dari tadi ia perjuangkan.
Airmata Eunjung mulai mengalir tanpa permisi, mengiringi kata-kata puitis yang terucap langsung dari hatinya.

“na ddo saranghae….. Park Sunyoung…”

TING!!! TONG!! TING!! TONG!!!

Tepat ketika kalimat itu meluncur melewati bibir indah Eunjung dan pelukan mereka makin erat di taman kota, Bell Geraja yang tak jauh dari tempat mereka duduk terdengar begitu nyaring dan Merdu.

Ah… ini malam natal… natal kedua bagi Eunjung dan Hyomin sebagai sepasang kekasih…

Malam dimana kebahagiaan akan datang kepada mereka yang mau menyayangi. Malam dimana akan memberikan sesosok teman pada umatnya yang tidak mau sendiri. Malam dimana cinta akan muncul dihadapan umatnya yang tersakiti.

Bagi seorang Ham Eunjung… berkah adalah orang yang saat ini tengah berada dalam pelukannya. Kebahagiaan adalah orang yang saat ini sedang menangis bersamanya. Teman adalah orang yang saat ini menyenderkan kepala di bahunya. Dan cinta adalah orang yang sedang ia usap kepalanya, yang terus ia bisikkan kata cinta yang sama berulang-ulang.

“jangan pernah menjauh, meskipun mereka melempar tembok yang begitu tinggi di hadapan kita..” Bisik Eunjung dalam rangkulannya “Merry Christmas…. Yeobo…”

“Ini bukan natal terakhir untuk kita… aku berjanji….” sumpah Eunjung semakin mengeratkan lengannya ke tubuh kekasih sekaligus sahabatnya itu…

SLAAASSHH…..!

hawa musim dingin membelai tubuh Hyomin dan kalimat Eunjung barusan seperti sebuah penghangat otomatis yang mencairkan es di tubuhnya.

“Merry Christmas to you too… Seobang…”

————————————– THE END ————————————
thanks read ^^

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s